VIVABOLA

Kita Hidup di Atas Daerah Rawan Bencana

Wawancara pakar gempa Doktor Danny Hilman.
Senin, 8 November 2010
Oleh : Wenseslaus Manggut
Dr. Danny Hilman Natawidjaja M.Sc.

VIVAnews - Gempa yang melanda sejumlah wilayah di tanah air belakangan ini mencemaskan banyak orang. Korban sudah berjatuhan. Gempa-gempa itu, juga bencana lain, semestinya melecut kita mengatur kehidupan- tata ruang, bangunan dan sebagainya - berbasiskan ilmu pengetahuan dan sejarah alam kita berpijak.

Sejumlah pakar gempa,  jauh-jauh hari  sebelum bencana  yang mengharu biru belakangan ini, sesungguhnya sudah memberi peringatan soal gempa besar yang mungkin terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.

Pakar gempa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman, misalnya, dalam wawancara  dengan VIVAnews Kamis 22 Juli 2010, sudah memperingatkan agar ratusan kota waspada. Baca lengkapnya wawancara itu di sini.

Perhatian Danny saat itu tertuju ke wilayah barat Sumatera. Dari penelitian lapangan dengan mengunakan GPS (Global Positioning System), Danny memperkirakan di seputar perairan Siberut dan Mentawai tersimpan energi gempa besar.

Dan gempa yang terjadi tanggal 25 Oktober 2010 lalu, yang skalanya 7,2 SR dan memicu terjadi tsunami, diperkirakan belum melepaskan semua kekuatan potensi gempa yang ada.

VIVANews kembali mewawancarai Danny Hilman, Rabu 4 November 2010, guna menggali gambaran sebab, efek dan fenomena gempa yang belakangan ini terjadi. Berikut petikannya.

Meengapa Indonesia dikenal sebagai negara rawan bencana? Apakah semata-mata karena menjadi titik pertemuan antar lempeng tektonik atau  karena ada faktor lain?

Indonesia menjadi daerah rawan bencana karena beberapa alasan. Pertama karena faktor alam itu. Negeri kita ini berdiri di atas pertemuan lempeng-lempeng tektonik itu. Akibatnya negeri ini berada di atas jalur gempa, patahan-patahan yang menyebabkan gempa.

Negeri kita ini juga memiliki banyak gunung berapi. Jumlahnya sekitar 140 gunung yang aktif. Iklim kita yang tropis juga menyebabkan banyak tanah yang tidak stabil. Banyak tanah yang rusak.

Iklim tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi memudahkan terjadi pelapukan. Bencana alam seperti longsor, misalnya, itu karena curah hujan di sini cukup tinggi. Itu dari sisi alamnya.

Kedua dari sisi non alam. Negeri kita berpenduduk padat, terutama di Pulau Jawa dan Sumatera. Kalau kawasan timur Indonesia mungkin belum begitu banyak. Infrakstuktur kita tidak didesain sesuai dengan kondisi alam itu. Bangunan rumah, juga bangunan besar seperti gedung, belum banyak disesuaikan dengan kondisi alam ini.

Tata ruang juga belum dikelola dengan ramah bencana. Kebijakan kebencanaan kita juga masih baru. Undang-undang yang mengatur soal ini juga baru terbit tahun 2007. Jadi pelajaran dalam menghadapi bencana, meski semenjak dahulu kala sudah terjadi, kita sangat telat.

Wilayah bagian mana saja yang paling rawan gempa dan tsunami?

Hampir seluruh wilayah seperti Jawa, Sumatra, Bali bahkan wilayah-wilayah di Timur masuk kategori rawan. Hanya mungkin Kalimantan Tengah dan Barat saja yang relatif bebas dari gempa dan tsunami.

Dari sejumlah pulau besar di Indonesia, seperti Sumatra, Jawa, bagian Timur Indonesia dan Bali, wilayah mana yang paling rawan?

Mana yang paling rawan, tidak hanya ditentukan oleh kondisi alam, tapi juga ditentukan oleh populasi manusia dan beberapa faktor lain. Di Timur Indonesia lebih banyak, tapi resikonya belum tentu besar sebab populasi penduduk di sana belum begitu tinggi. Bangunan tidak sebanyak di Jawa dan Sumatera.

Saya tidak bisa memastikan mana yang lebih rawan. Kalau faktor alam, Sumatera lebih tinggi dari Jawa. Tapi dari segi populasi penduduk jelas Pulau Jawa lebih tinggi. Bali juga termasuk rawan, karena potensi gempanya ada dan padat penduduk.

Untuk menentukan mana yang lebih rawan, memang diperlukan analisis yang lebih kuantitatif. Jadi ada analisis resiko kuantitatif yang akurat untuk memperlihatkan resiko dan kerawanan itu.

Jadi apa yang sebaiknya kita lakukan?

Kita harus membuat peta resiko nasional. Agar lebih jelas bagi kita semua mana daerah yang rawan, mana yang kurang dan yang tidak rawan.

Gempa sudah terjadi semenjak puluhan bahkan ratusan tahun lampau. Jika dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya itu, apakah frekwensi gempa belakangan ini lebih sering atau tidak. Dan mengapa?

Untuk menjawab pertanyaan itu perlu data. Sayangnya informasi soal itu sangat minim. Saya tidak tahu apakah gempa dan tsunami sebelum tahun 1900, sehebat yang terjadi sekarang ini.

Kemungkinan sebelum tahun 1900 itu lebih hebat. Sebab dalam satu periode, sebelum tahun 1800 misalnya, terjadi begitu banyak bencana. Krakatau tahun 1883, Tambora 1815, Tsunami di Bali 1800-an di mana mengakibatkan 15 ribu orang hilang. Tahun 1859 sekitar 3000 korban di Maluku. Dan juga ada gempa besar yang terjadi pada tahun 1797, 1861,1833, yang skalanya di atas 8,5 SR.

Jika batasannya adalah 100 tahun belakangan ini, dekade sekarang ini memang lebih gawat, khususnya dua tahun belakangan ini.

Apakah maraknya gunung meletus belakangan ini terkait dengan aktivitas pergerakan lempeng tektonik?

Keduanya terpisah. Hanya saling mempengaruhi dalam soal kerusakan. Kalau gelombang gempa melewati magma gunung berapi, maka dia akan menaikkan magma gunung berapi itu.  Tapi kalau magma gunung itu kosong, mau ditembak gempa ratusan kali juga gunung itu tidak bakal aktif. Tapi kalau kandungan magmanya sudah matang, kantung magmanya sudah penuh, dia akan keluar kalau ditembak oleh gempa.

Anda pernah menyebutkan wilayah Indonesia, khususnya di pantai barat Sumatra masih menyimpan potensi gempa besar, apa alasannya dan bagaimana penjelasannya?

Ini karena siklus alam. Alam itu bergerak begitu-begitu saja. Sejak ratusan tahun bahkan jutaan tahun lampau. Dia hanya bergerak 5 cm per tahun, kemudian menabrak. Siklusnya ada tiga; ditekan, dikumpulkan, dilepas. Selalu begitu dari dahulu kala.

Nah, kebetulan pada dekade generasi kita ini, kabagian pada fase pelepasan sehingga banyak sekali gempa. Nantinya, setelah magma itu lepas, ya aman lagi. Lalu memasuki proses penekanan lagi, dan pengumpulan dan begitu seterusnya.

Apakah mungkin kita bisa menghitung potensi energi yang masih terkumpul itu?

Bisa dihitung dari data koral. Bisa dari data siklus gempa 700 tahun belakangan. Dari sejarah yang bisa didokumentasikan. Lalu kita mengunakan alat GPS (Global Positioning System), yang bisa merekam pergerakan lempeng secara akurat.

Berapa banyak akumulasi gempa dan lokasinya di mana, kita harus pelajari gempa-gempa yang tercatat tahun 2004, 2005, 2007, 2009, dan 2010. Dari sejumlah peristiwa itu, kita bisa tahu bagaimana proses gempanya. Kita juga bisa menghitung berapa jumlah yang akan dilepas.

Di dunia ini belum ada metode yang valid, sahih secara spesifik  yang bisa menebak terjadinya suatu gempa. Di luar negeri memang ada  yang berhasil memprediksi dalam jangka pendek. Tapi peneliti manapun di dunia tidak bisa memperkirakan kapan itu terjadi, deteil dalam hitungan hari atau tanggal letusan.

Apakah potensi gempa itu umumnya berimbas pada tsunami?

Tentu saja menimbulkan tsunami. Yang kemarin di Mentawai menimbulkan tsunami.

Bagaimana sebaiknya cara-cara yang perlu ditempuh pemerintah untuk menghadapi berbagai bencana seperti gempa dan tsunami?

Ke depan pemerintah harus membuat program pemetaan daerah rawan bencana, peta analisis resiko secara nasional dan dampak yang dihasilkan oleh suatu daerah rawan bencana. Sehingga masyarakat selalu waspada dan tahu cara-cara menyelamatkan diri. Dengan begitu kita bisa mengurangi resiko.

 

TERKAIT
TERPOPULER